
Pengantar
Pada abad ke-4 M, di tepi sungai Cimanuk telah berdiri sebuah kerajaan lokal yang bernama Kerajaan Manukrawa.
Permaisuri dari Raja Indraprahasta ke-3 Prabu Wiryabanyu (421M - 444M) yang bernama Nyi Mas Ratu Nilam Sari, berasal dari Kerajaan Manukrawa. Tetapi dalam sepuluh abad berikutnya tidak ada berita perihal kerajaan ini. Diduga telah terjadi musibah besar, kerajaan diterpa banjir bandang sungai Cimanuk, yang kadang-kadang terjadi dan masih terjadi sampai abad ke-19 M. (yang terakhir adalah 1850M).
Pada abad ke-14 M, baru terdengar adanya tempat pemukiman kecil penduduk, jauh di sebelah timur sungai Cimanuk, yaitu di desa Bungko, yang pada 1471M dikunjungi Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah dalam da'wah Agama Islam.
Kecuali tempat tersebut, kawasan muara sungai Cimanuk sampai abad ke-15 kembali menjadi hutan belantara.
Padepokan Gunung Sumbing
Pada 1500 M, Aria Wiralodra berusia sekitar 17 tahun. Dia adalah Putra Adipati Bagelen Dalem Singalodra.
Keluarga Sang Adipati yang beragama Islam, memihak Demak sejak memisahkan diri dari Majapahit.
Sebagai putra Adipati, pada usia tersebut dia wajib melaksanakan pendidikan kesatria seperti ilmu ketatanegaraan dan keprajuritan, termasuk ilmu kanuragan, bela diri dan bela negara. Sedangkan ilmu Agama Islam dilaksanakan lebih awal yaitu pada usia tujuh tahun. Kesemuanya itu telah dilaksanakan.
Kemudian untuk meningkatkan "kemampuan diri", baik lahiriah maupun batiniyah, Aria Wiralodra memilih Padepokan Gunung Sumbing untuk berkhalwat.
Di padepokan ini dimakamkan leluhurnya, pendiri Bagelen Nagari, Ki Betara. Oleh karena itu dinamakan pula Padepokan Ki Betara.
Serat Babad Dermayu menulis gambaran saat itu dalam bentuk macapat Pupuh Sinom sebagai berikut:
Anang Sainggiling malaya
Tempat ingkang sanget werit
Gumuling ana ing kisma
Anenuwun ing Yang Widi
Sare'at tarekat mangkin
Hakekat ma'ripat wan
Tan sanes ingkang tumingal
Amandeng ing wujud Tunggal
Jaba-jero supaya dadi satunggal
Tinggal sareh miwah dahar
tigang taun lami neki
Kanton gagra lan usika
Sampun ical wujud neki
Medal caya ingkang bening
Tanda tinarimang Agung
Kang den suwun ing Yang Sukma
Mugia antuk ridho Gusti
Saturune Mugia antuk Raharja
Kini Sang Pertapa telah mendapatkan "kekuatan" yang tinggi, apa yang disebut sebagai mumpuni, yaitu memiliki kemampuan batin (magis) dan kesaktian (supranatural).
Ketika Aria Wiralodra mohon diri kepada Sang Wiku Padepokan untuk kembali ke Bagelen, dia mendapat tiga buah senjata Pusaka Gunung Sumbing, berupa sebuah cakra yang bernama Cakra Udaksana Kiai Tambu, dan dua buah keris yang bernama Gagak Handaka dan Gagak Pernala. Pusaka-pusaka tersebut buatan Empu Warih (Anak Empu Bondan), dibuat masa Kerajaan Kediri abad ke-12 M (sekarang disimpan di Kabupaten Indramayu).
Setelah tertegun mendapat tiga pusaka utama, (yang merupakan idaman para pertapa Gunung Sumbing) yang tidak diduganya, Aria Wiralodra sujud syukur kepada Yang Maha Esa dan menyampaikan terima kasih berulang-ulang kepada Sang Wiku Padepokan. Kemudian mohon diri dan Aria Wiralodra kembali ke Kadipaten Bagelen.
Bersambung.... |